Wednesday
Biarkan Aku Mampir
: Hasan Aspahani
25.07.2006



Semangatmu masih membekas:
Siramilah puisi di negeri sana.
Maka aku pun berangkat dengan
terlunta-lunta dan hanya membawa
sedikit kata-kata yang mudah-mudahan
cukup untuk hidup beberapa hari.

Setibanya aku, ternyata tak ada
puisi. Entah aku ini pangling
dengan puisi atau puisi sudah
merasa asing dengan saya.

"Anda, penyair?" Todong sebuah
sajak. Aku langsung merinding
sampai tak mampu menjawab.
"Ah, kami tidak butuh engkau."

Biarlah aku pulang, bang.
Di bawah langitmu: rumah kecil
tempat kita minum teh sambil
melafalkan tingkah senja.

Bolehlah aku menumpang tidur
hingga tanpa sadar liurku sudah
memenuhi ranjang. Kemudian aku
sajikan untukmu sebuah kata: maaf.
 
Steven menulis pada 20:24 | buka halaman |


1 komentar:


  • At 28/7/06 11:39, Anonymous HAH

    Nggak mudah untuk memandang peristiwa ngiler sebagai sebuah peristiwa biasa. peristiwa netral. Saya sendiri bahkan menganggap itu pada kutub negatif dan belum terpikir untuk membawanya ke dalam puisi. Besok mungkin kamu akan memuisikan ngompol, atau malah "onani". He he he. Ini namanya kejutan. Dan karena itu puisi ini mengejutkan pada beberapa bagiannya.