Saturday
Judul atas Sajak Dua Bagian tetapi Ia Sangat Tidak Ingin Membacanya
1/

hanya dalam buku catatan ini
dapat ditemukan kembali kita
ketika cinta sudahlah menjadi
janji yang gagal terucapkan


2/

hanya dalam buku catatan ini
kita temukan kembali penantian
sedangkan waktu telah menjelma
menjadi tanda tanya yang panjang


28 Februari 2009
 
Steven menulis pada 09:59 | buka halaman | 0 komentar
Friday
Sebuah Kafe dan Puisi yang Menciptakan Judulnya Sendiri
jangan engkau mengira kalau kata
bisa habis diterka lalu terabaikan
di atas meja kecil ini bagaikan
sepotong french toast yang mengerut

kemudian aku mengambil garpu roti
lalu mengetuk-ketukkan di piringnya
sehingga tercipta sebuah komposisi
yang mengisi setiap kata-kata itu

sambil mencicipi kopi secangkir
kita menyaksikannya: kata dan nada
sambar-menyambar di meja kecil ini
tak henti-henti menciptakan puisi


27 Februari 2009
 
Steven menulis pada 23:52 | buka halaman | 0 komentar
Hari Ini
kalau saja kami boleh menerka
ulang tahunmu hari ini, bukan?

kue ulang tahun sudah disiapkan
banyak lilinnya berjumlah persis

tentu saja kami tidak sedang
ingin mempercepat kematianmu

: selamat ulang tahun


27 Februari 2009
 
Steven menulis pada 00:52 | buka halaman | 0 komentar
Thursday
Usia
1/

ada terletak sebutir Usia dalam dadamu
sebutir cahaya yang membuatmu menyala

dalam tidurmu telur suka bergerak-gerak
kemudian dipanggilnya namamu berulang kali

mendengarnya barangkali membuatmu bermimpi
tentang bayi dan demamnya yang saling gapai


2/

percayalah, telur suatu ketika pasti menetas
dan rahang kecilnya akan dipenuhi rasa lapar

kata seorang teman, engkau sangatlah haru
sambil menyerahkan nyawamu kaukecup pipinya

setelah ajalmu, bayi pun tergelak-gelak
dikecupnya pula pipimu lalu ia naik ke surga


26 Februari 2009
 
Steven menulis pada 01:21 | buka halaman | 0 komentar
Wednesday
Ucapan
Puisi Bernard Batubara
buat Steven Kurniawan

aku adalah sketsa yang menunggu kata-kata lebur ke dalam hujan di malam hari
aku adalah halte yang menunggu angka-angka mati ke dalam tubuh yang lahir kembali


2009
 
Steven menulis pada 22:54 | buka halaman | 0 komentar
Seseorang yang Bertambah Usia
Puisi Phow Anks
buat Steven Kurniawan

Temaram lampu lilin menari di atas usia
Bersinar remang yang membias wajah
Pejamkan mata
Jauh di hati berucap doa


Jember, 25 Februari 2009
 
Steven menulis pada 22:50 | buka halaman | 0 komentar
(tanpa judul)
Puisi ulang tahun dari Kiki
untuk Steven Kurniawan

apa yang terleleh dari sebuah perulangan tahun
selain kenangan
mencakup romansa ribuan duka dan suka meresap di setiap hela nafas
sedang di depan mata maut sedang bersiap mencabut masa dengan sabitnya

cukup rapalkan syukur sebagai mantra saja
supaya terbiasa bukan apa-apa


2009

p.s. selamat memiliki hari ini ya stev
 
Steven menulis pada 19:13 | buka halaman | 0 komentar
Tuesday
Bermain Sketsa #06
Belenggu
Temanku iseng-iseng memberiku 10 kata untuk dibuatkan puisi, tetapi kata-kata ini dalam bahasa melayu:
  • gerimis
  • dibelenggu
  • bingkas = segera
  • menerjah = muncul / menerpa / menjelma
  • bungkam = pengsan
  • tomahan = hinaan / cacian
  • dodoian = buaian / khayalan
  • onak = sejenis akar
  • dilimpahkan = dikaruniakan
  • takdir
Inilah hasilnya:


Belenggu
untuk Lili Juliani

ketika senja berderai di langit
gerimis bingkas bangkit sebelum
engkau menjelma menjadi akar onak
agar dapat dilimpahkan sebuah pesan
yang masih dibelenggu dalam dada

tetapi ketika gerimis menerjah
bibirnya bagai terkunci bungkam
dalam dodoian tatapan wajahmu
dan gerimis tak dapat mengeluarkan
tomahan kepada takdir, senja itu

berlalu tanpa pesan yang dilimpahkan


24 Februari 2009

Labels:

 
Steven menulis pada 01:45 | buka halaman | 0 komentar
Sunday
Bertamu ke Rumahmu
Puisi Resta Gunawan
untuk Steven Kurniawan

setelah sesat di ribuan alamat, kutemukan juga rumahmu;
jauh dipisahkan selat antara kota yang cacat kakinya dan
kota yang tercatat di tiap kepala; sebagai tempat tertenang
untuk berenang tanpa harus melawan deras arus kenangan.

kutemukan rumahmu di antara deretan rumah-rumah baru,
dinding warna gading dan jendela menghadap lautan biru;
dari situ sering kubayangkan kau memandang cakrawala
saat senja dan memindahkan sketsa wajahnya dalam puisi.

di sinilah aku saat ini, kataku dalam hati (sambil mengupas
satu demi satu lapis mimpi yang mengantarkanku padamu),
berdiri depan rumahmu; ragu-ragu apakah akan mengetuk
pintu depan atau menyelinap lewat belakang sebab datang
tanpa cukup persediaan kata matang dalam genggaman.


2009
 
Steven menulis pada 23:31 | buka halaman | 0 komentar
Mencair Kepadamu
1/

apakah yang mampu meleleh pada
sebuah stasiun kereta? (barangkali
hujan bukan? jawabmu) ketika basah
kembali pipimu padahal cerah langit

payung di tanganmu sebegitu lekas
lekas memejamkan mata agar jangan
dipandangnya wajahmu, tidak hendak
diterkanya asal recikan tersebut


2/

apakah yang mampu meleleh pada
sebuah stasiun kereta? (barangkali
perpisahan bukan?) ketika waktu ini
padamu mencair, menyuburkan kenangan

kereta seperti mengabarkan musim
untuk lekas tiba dan erat memelukmu
agar jangan engkau sendirian saja
duduk dengan payung di tangan, terbuka


22 Februari 2009
 
Steven menulis pada 22:52 | buka halaman | 0 komentar
Saturday
Berita Pagi
pagi yang tiba duduk bersandar
di tepi ruangan, di tepi jendela
rumah makan ini sambil memesan
secangkir tafsir disertai sepotong
igauan hangat dari dalam mimpi

angin yang tak mau kesepian lekas
membuka jendela (dan mengisyaratkan
matahari untuk hinggap di bingkainya)
sehingga terungkap mata-mata embun
butir-butir waktu berderai kembali

berita hari ini membuktikan ada
seorang gadis menembus sistem sepi
dan membuat suara-suara ganjil:
sebentar tertawa kemudian langsung
disusul dengan lengking tangisan

sambil menkmati paket sarapan pagi
muncul seorang gadis dan seperti
dikenalnya wajah dan pakaiannya
cukup seksi (baca: sedikit sinting)
matanya merah sengit, mabuk berat

: aduhai, dirimu pergi ke mana saja
aku menunggumu semalam suntuk!


21 Februari 2009
 
Steven menulis pada 01:53 | buka halaman | 0 komentar
Thursday
Buku
untuk Kafebaca Biblioholic

sejak kecil sebetulnya engkau sudah
enggan sekali untuk pergi ke sekolah

karena bukulah yang mampu membuka matamu
pada kata dan makna dalam serat sekat waktu

begitulah engkau menjadi karib pada buku
tempatmu membaca kata cinta dengan lugu

ketika dewasa cintamu pada buku tak berubah
sehingga kekasihmu cemburu dan sangat marah

semakin lama kalian tambah tak terpisahkan
buku tetap mendekap baik terik maupun hujan

tetapi sayang bahwa buku tak mengenal ajal
masih disebutnya namamu di sampulnya, kekal


19 Februari 2009
 
Steven menulis pada 21:03 | buka halaman | 0 komentar
Wednesday
Celengan
ke dalam celengan waktu
engkau menabung ingatanmu

dari cinta yang adalah fana
sampai lupa yang paling duka

berbungalah wahai celenganku
menjadi kuntum dalam mimpi beku

menjelma pelangi atas mendung
sehingga warna jangan terbendung

ketika kaubuka ternyata tersisa
endapan dari sakit perihmu sia-sia


18 Februari 2009
 
Steven menulis pada 23:27 | buka halaman | 1 komentar
Tak Terucap
masih tersisa cinta, membujuk
dalam dadanya di pucuk rindu
(denyutnya kelu dan merahnya
semakin layu di luar warna)

terus saja dipanggilnya namamu
dengan kutukan dan sulapan itu
seperti hendak ditorehkannya
rintihan ke dalam bujur tubuhmu

ingin dipersembahkannya bagimu
hal terindah tapi tak dikenalnya
yang lebih elok daripada maut
(yang bukan fana, kekal kepadamu)


18 Februari 2009
 
Steven menulis pada 22:08 | buka halaman | 0 komentar
Monday
Geronggang
dalam kamar kecil ini garis menepi
menjadikan kembali segala batas
atas kerinduan yang kami ciptakan

tetapi di manakah gerangan cinta?
ketika jendela menayangkan musim semi
pada dahan itu seperti kehabisan suara

bukankah ada dalam dada, kau bilang
bukan! bukan! sudah kami pindahkan
ke dalam sebuah kotak, merah warnanya

kami tuliskan pula tiga patah kata
agak miring sedikit, mungkin kami gugup
sekarang sudah samar untuk dapat dibaca

barangkali akan ketika waktu menyusut
menyisihkan beribu jarak dalam kenangan
kami temukan kotak itu di dalam dadamu


16 Februari 2009
 
Steven menulis pada 23:24 | buka halaman | 0 komentar
Bahasa
mendengar suara-suara gemuruh
ia percaya kalau tentu saja
langit juga berbahasa seperti
sebuah musim yang mengucapkan
pesan: gugur kembali dedaunan

tapi apakah arti sebuah bahasa,
apakah kata-kata adalah bahasa?
(sebetulnya ia hanya yakin kalau
cinta adalah bahasa walau sering
ia dibuatnya kehabisan kata-kata)

langit makin padam dan perlahan
ada yang terucap dari atas sana
ketika berderai perlahan sesuatu
seperti tanda baca, seperti kata
dan ia berusaha keras membacanya

tentu saja tak semua bahasa dapat
ditejermahkan, bukan? Semoga saja
ia hanya lupa bagaimana agar dapat
mengucapkan suku demi sukukata itu
(semoga saja jangan didengarnya ada)


16 Februari 2009
 
Steven menulis pada 17:26 | buka halaman | 0 komentar
Sunday
Nyindir
Puisi Mike JK
buat Steven Kurniawan

Seekor anak muda, mentah
Liar tingkahnya
Kram pikirnya
Dikirimi sepaket kata-kata
Lengkap dengan kembang-kembangnya
Kata pujangga yang mengirim
"Aku tandakan kamu di puisi baru"

Masuklah anak muda ke dunia maya
Dimana para pujangga bertukar cerita
Bahasa Yunani
(kenapa pakai kurung)
Kata-kata ibarat wanita
Cantik kata seorang
Jelek kata yang lain
Ironi (kutambahkan kurung di sini
walaupun tidak tahu maksudnya)

Si anak muda membalas paket dari sang pujangga
Sebuah paket kata-kata
Dipilih dan diracik
Dibumbui kegilaan yang sangat
Dengan lampiran
"Boleh ga laen kali paketnya ngga pake bunga?"

090209
 
Steven menulis pada 17:37 | buka halaman | 0 komentar
Friday
Kedai Minuman
1/
pada suatu jalan-jalan akhir pekan
aku menemukan sebuah kedai minuman

tempat ini bukan sembarangan pasti
ada tukang sulap sampai tukang mimpi

siapa saja boleh pesta sampai nyerah
ayo adu hati siapa yang paling merah

awas, nanti kusulap hatimu jadi dua!

ah bercanda, kau pasti sedang mimpi!

2/
selamat datang, tidak puas uang kembali
ayo sebutkan pesananmu kalau bernyali

sebetulnya saya cuma numpang ngintip
mudah-mudahan boleh sekalian mencicip

3/
berbagai minuman dalam botol tersedia
baca saja jenis dan juga nama peraciknya

ada yang berkilat botolnya berwarna biru
bertuliskan: Airmata, tertera juga namamu


13 Februari 2009
 
Steven menulis pada 23:27 | buka halaman | 0 komentar
Kesedihan
lagipula apakah kaunamakan kesedihan?
(yang menawarkan payung kepadamu ketika
hujan rintik-rintik kala senja sehingga
kalian mampir sebentar ke sebuah kafe
dengan segelas coklat hangat dan terasa
waktu pun jadi begitu manis oh betapa ...)

lagipula apakah kaunamakan kesedihan?
(yang begitu tulus menerimamu sehingga ...)


13 Februari 2009
 
Steven menulis pada 18:44 | buka halaman | 0 komentar
Thursday
Dalam Gelap
barangkali hanya ketika gelap saja
pertanyaan perihal tempat menjadi
sangat penting: aku ada di mana?
atau paling tidak: di mana cahaya?

tetapi ketika engkau tersekap gelap
tidak apapun juga engkau pertanyakan
seperti damai sekali kelam bagimu
adakah asing sudah menjadi karib?

sambil tersenyum tampaknya engkau
membayangkan kalau dirimu adalah
janin kecil dalam kandungan ibumu
yang adalah seorang kurator ternama

berkat profesi ibumu engkau khawatir
kalau sejak dalam kandungan ini sudah
harus mulai melepas pasang tubuh sendiri
yang semoga saja sesuai standar logika

namun ada yang lebih engkau takutkan
bahwa ayahmu adalah seorang aktor besar
dan mungkin saja bukan kalau dirimu
ternyata cuma peran yang sesungguhnya

tak pernah ada


12 Februari 2009
 
Steven menulis pada 20:09 | buka halaman | 0 komentar
Wednesday
Di Sebuah Kediaman
seorang gadis yang tinggal sendirian
di rumah tua itu memiliki kebiasaan
yang mudah diterka: kalau pagi datang
ia membuka jendela kamar lotengnya

pada jendela itu ia gantungkan sangkar
peliharaannya: sebuah suara jeritan
pekak yang membuat malam takut sekali
tak berani mengganggu kesendiriannya

kala siang gadis itu akan santai di
beranda: duduknya dimiringkan, dadanya
setengah terbuka dan sambil bersenandung
ia membaca novel yang hitam sampulnya

sore hari yang paling romantis: dia pasti
sedang menyirami bayang-bayang yang makin
kokoh tubuhnya, merayakan kemenangan sebab
matahari perlahan tersudut kalah oleh waktu

kalau hari sudah gelap, aku pun lekas meninggalkan
rumah kediaman gadis itu sebelum ada bayangan
raksasa bangkit dari perkarangan rumahnya
berdiri di depan pintu dan mengetuknya dan ...


11 Februari 2009
 
Steven menulis pada 01:16 | buka halaman | 0 komentar
Monday
Di Langit Suara
di langit-langit suara terdengar
malam masih menyala sedangkan
kupu-kupu meranggas dari setiap
kelopak bunga yang membisikkan
perihal cinta dan kematian

tapi janganlah engkau ke mari,
merendah: menciumi kupu-kupu itu
kemudian dadamu serasa dipenuhi
serbuk sari-sari bunga dan engkau
menjelma menjadi kepompong kecil

tapi janganlah engkau menduga
kalau musim telah menjadi semi
kemudian warna serasa memenuhi
sayapmu dan engkau dengar lagi
panggilan bunga-bunga di taman

agar jangan terdengar kembali:
malam masih menyala sedangkan
kupu-kupu ...


09 Februari 2009
 
Steven menulis pada 23:27 | buka halaman | 0 komentar
Sunday
Sketsa Serapan
Nero, karya Shuntaro Tanikawa
Nero
(untuk anjing kecil kesayangan)

Nero
kemarau yang lain hampir tiba
lidahmu
matamu
tidurmu di siang hari
kini telah kembali menghampiriku

Engkau mengenal dua buah kemarau
aku mengenal delapan belas kemarau
dan kini aku mengenang berbagai kemarau
baik yang kumiliki maupun yang bukan:
sebuah kemarau di Maisons-Lafitte
sebuah kemarau di Yodo
sebuah kemarau di Jembatan Williamsburg
sebuah kemarau di Oran
maka aku membayangkan
tentang jumlah kemarau
yang telah lama mereka kenal

Nero
kemarau yang lain hampir tiba
tapi bukanlah kemarau ketika engkau masih di sini
kemarau yang lain
kemarau yang sangat asing.
Kemarau yang baru hampir tiba
aku akan menemukan banyak hal
hal indah hal buruk
hal-hal yang akan menghibur menyedihkan aku
dan maka kutanya --
apakah?
mengapakah?
apa yang harus dilakukan?

Nero
kau telah pergi
tanpa seorang pun mendengarnya
engkau telah pergi sendiri jauh
suaramu
sentuhanmu
dan bahkan perasaanmu
kini telah kembali menghampiriku

Tapi Nero
kemarau yang lain hampir tiba
dan kemudian
barangkali aku akan berjalan
untuk menemui kemarau baru
untuk menemui musim gugur
untuk menemui musim dingin
untuk menemui musim semi dan
untuk mengharapkan kemarau baru lagi
hanya untuk mengetahui hal-hal baru
dan
hanya untuk menjawab
semua pertanyaanku
sendiri.

- -

"Nero"
(to a loved little dog)

Nero
another summer is coming soon
your tongue
your eyes
your napping in the afternoon
now clearly live again before me.

You knew but about two summers
I already know eighteen summers
and now I can remember various summers
both of my own and not my own:
the summer of Maisons-Lafitte
the summer of Yodo
the summer of the Williamsburg Bridge
the summer of Oran
so I am wondering
about the number of summers
that humanity has already known.

Nero
another summer is coming soon
but it's not a summer when you were here
a different summer
a completely different summer.
A new summer is coming
I'll be learning various new things
beautiful things ugly things
things to cheer me things to sadden me
and so I ask --
what is it?
why is it?
what must be done?

Nero
you have died
without anyone being aware
you have gone far away alone
your voice
your touch
and even your feelings
now clearly live again before me.

But Nero
another summer is coming soon
a new infinitely vast summer is coming
and then
I'll probably be walking on
to meet the new summer
to meet autumn
to meet winter
to meet spring and
to expect a new summer again
in order to know all the new things
and
in order to answer
all my questions
myself.
 
Steven menulis pada 20:52 | buka halaman | 0 komentar
Saturday
Catatan Akhir
ketika buku catatan tertutup
ada yang tak sempat terucap
(hujan yang memandangmu pun
bangkit dan mengecup matamu)

sengit meninggi ketika airmata
menitik derai demi derai lagi
sedangkan aku seperti terkutuk
untuk ikut menangis(i dirimu)

adakah yang lebih biru dari sedu?
barangkali kesedihan itu adalah
bagian terakhir dari kisah kita
sebelum kita terhilang kemudian

terasing dalam buku catatan lain
dengan pena yang pernah patah;
di halamannya yang kian putih
aku hendak menghilang. "Barangkali

waktu terputus."


06 Februari 2009
 
Steven menulis pada 00:05 | buka halaman | 0 komentar
Thursday
Senjakala
hari itu hujan lumpuh perlahan
di sebuah jalan kecil depan rumahmu,
menjadi sengit cuaca dan pikiranmu
semakin awas, mudah terserang ingatan

kaupandang pula senja yang menyusuri
jalan itu sambil menundukkan kepala:
adakah ia berkabung? (tak ditangkapnya
senyumanmu, langit tetap sepi tanpa hujan)

barangkali ada ia sadari, betapa fana
kenangan. Dipungutnya garis-garis hujan,
dicicipinya rasa dingin itu dengan waspada
agar jangan ia berduka, meremang seketika

barangkali ada ia sadari, betapa fana
matahari itu! Dipandangnya angkasa raya,
dipetiknya garis-caris cahaya yang hampir
habis sebelum dirinya pun padam kembali

dan merasa sia-sia


05 Februari 2009
 
Steven menulis pada 02:18 | buka halaman | 0 komentar
Tuesday
Catatan Bergambar (Dirimu)
masih tertulis namamu dalam catatan
(dan bukan gambar gadis kecil yang
sedang membisikkan sesuatu kepada
kupu-kupu) walau penuh sudah guratan

sambil membacamu kugambarkan sebuah
jenazah di sampingnya menggengam
setangkai bunga dan sebait puisi
agar kau nyenyak tidurnya, sayang

kutambahkan pula purnama di langitnya
dan ada seekor kanibal menginginkan
tubuhmu dan ada anjing liar yang juga
sangat mencintaimu dan akan memangsamu

dari sudut halaman tiba-tiba bangkit
sebuah kata yang menjelma Aku: seraya
memanggil namamu berulang-ulang hingga
sang kanibal dan si anjing terperanjat

semakin siaga menjaga kekasihnya itu


03 Februari 2009



 
Steven menulis pada 01:01 | buka halaman | 2 komentar
Monday
Catatan Kecil
di sampul buku catatan itu masih ada
sebuah kata yang belajar mengucapkan
namamu ketika engkau sedang menikmati
petang dan tak ada pula yang tergesa
untuk melepas bintang-bintang langit

perlahan engkau buka kembali catatanmu
yang semakin kenangan warnanya dan
betul dugaanmu: memang usialah yang
memisahkan segala ingatan sehingga
dirimu sekali lagi akan menjadi kanak

tentu saja, seorang gadis kecil yang
kembali belajar membaca sebuah kata
di sampul buku catatan itu sambil tersenyum
ketika ternyata telah salah mengucapnya
dan engkau pasti mencobanya sekali lagi

bagaikan seorang gadis kecil kian riang
membolak-balik halaman buku catatan lalu
menemukan sebuah kata asing yang engkau
lupa apakah pernah mengenalnya tapi entah
mengapa seperti ingin menangis sepuasnya

saat engkau melihat gambar hati merah itu


02 Februari 2009
 
Steven menulis pada 20:45 | buka halaman | 1 komentar