Tuesday
Bermain Sketsa #06
Belenggu
Temanku iseng-iseng memberiku 10 kata untuk dibuatkan puisi, tetapi kata-kata ini dalam bahasa melayu:
  • gerimis
  • dibelenggu
  • bingkas = segera
  • menerjah = muncul / menerpa / menjelma
  • bungkam = pengsan
  • tomahan = hinaan / cacian
  • dodoian = buaian / khayalan
  • onak = sejenis akar
  • dilimpahkan = dikaruniakan
  • takdir
Inilah hasilnya:


Belenggu
untuk Lili Juliani

ketika senja berderai di langit
gerimis bingkas bangkit sebelum
engkau menjelma menjadi akar onak
agar dapat dilimpahkan sebuah pesan
yang masih dibelenggu dalam dada

tetapi ketika gerimis menerjah
bibirnya bagai terkunci bungkam
dalam dodoian tatapan wajahmu
dan gerimis tak dapat mengeluarkan
tomahan kepada takdir, senja itu

berlalu tanpa pesan yang dilimpahkan


24 Februari 2009

Labels:

 
Steven menulis pada 01:45 | buka halaman | 0 komentar
Monday
Bermain Sketsa #05
Malaikat Natal
Beberapa hari lalu, temanku Mike tiba-tiba memintaku menemaninya menulis. Entah, mungkin dia merasa asing dengan kata. Kemudian kita sepakat mempersatukan kata-kata berikut ini ke dalam sebuah tulisan. Kami menyebutnya beriringan yang diawali oleh Mike: kertas, kaca, kelapa, mesin, sujud, telepon, tugas, jam, lakban, gitar. Tampaknya kami memang dari latarbelakang yang berbeda. Dia itu insinyur. Kalau saya? Kalian boleh pikirkan apa saja. Baiklah, ini puisinya walau aku gagal mengajak kata 'kelapa' ke dalamnya:


Malaikat Natal

adakah yang lebih gaib dari sebuah
telepon genggam: malaikat kecil
yang dapat bersabda tentang kenangan
dan masa depan secara sederhana?

matakacanya terus saja berpijarkedip
sambil berdetik jam atas binarnya
hingga kita mengerti kalau waktu
tengah berhembus dalam jantungnya

pada tubuhnya terukir pengetahuan:
angka dua yang terus bersujud
menghadap yang Esa sehingga ke
sanalah segala huruf diawalkan

setiap malam dia sering memainkan
suara gitar sambil bertugas mengawas
datangnya pesan rahasia yang tak
pernah berhasil diterjemahkan kertas

entah ulah atau tulah kalau setiap
akhir tahun mesinnya berdering dan
dari matanya yang sudah kulakban
ketat masih juga terbaca sebuah pesan

"Selamat natal,
jangan-jangan engkau cuma pohon natal."


01 Desember 2008

Labels:

 
Steven menulis pada 23:55 | buka halaman | 0 komentar
Friday
Bermain Sketsa #04
Golgota
Inez Dikara ternyata diam-diam ikutan arisan bersama Benz ketika rumahnya habis diobrak-abrik penjahat. Saya diam-diam tergoda untuk main juga. Kali ini hidangan disajikan oleh Benz, si tuan rumah. Inilah dia: lampion, sumpit, totem, kapal, gaun, bukit, karang, tenda, tongkat dan bendera. Aku mencatat perundingan mereka:


Golgota

berapakah luka telah bertemu
dan berapa yang masih mencari
ketika lampion tengah menyala
di tanganmu (tuas ruas meredup
perlahan oleh cahaya airmata)

o betapa karang perjalanan,
tanpa tongkat dan tenda bagi
penuh peluh yang kekal pada
tubuhmu, bagi pikiranmu yang
mengingkar ingat setiap langkah

hanya dengan selembar kertas:
peta buta yang sudah kaulipat
menjadi kapal dan semoga saja
menghibur segala bingungmu di
gelap malam yang serba lengkap

jauh menempuh, lelah yang telah
menghentikanmu di atas sebuah bukit
dan kaulihat berdiri totem seorang
manusia dengan luka sumpit yang
berdarah ruah tepat pada lambungnya

kemudian kautancapkan benderamu,
di dekat kakinya engkau bersandar
sambil merebut gaunnya yang putih
dan nyaris habis untuk berselimut
hingga engkau hangat tertidur pulas

tatkala malam kedinginan menatapmu


28 November 2008

Labels:

 
Steven menulis pada 00:07 | buka halaman | 2 komentar
Bermain Sketsa #03
Sediam Suara
Aku dan Dedy Tri Riyadi telah berbincang-bincang. Dia menyerukan: lidah, tua, marah, luka dan pisau. Aku bilang: tali, suara, bunga, ransel dan kartu. Inilah hasil perbincangan itu menurutku:


Sediam Suara

malam semakin langit ketika kembali
kita telusuri stasiun ini (suara-suara
langkah terapung kepada udara) dan
kereta pun tegak tegar menyaksikan
segala bunga yang bergugur bentur

betapakah lidah tak juga mengucapkan
perpisahan; kami melupakan segala
pertemuan dan tua ingatan tentang
tali pengikat atau kilau pisau yang
memutuskan cakap percakapan

sebab kenangan sudahlah seperti
ransel kecil yang tertinggal di stasiun
karena tak sanggup engkau membawanya
dan tak ada pula yang perduli untuk
merampasnya pulang ke sebuah rumah

tanpa marah, tanpa haru engkau tatap
kartu perjalanan yang akan mengantarmu
menggapai berbagai pertemuan lainnya,
berbagai rupa luka dan membawa perih
kembali berlari: menjadi terdiam sepenuhnya


21 November 2008

Labels:

 
Steven menulis pada 23:23 | buka halaman | 0 komentar
Wednesday
Bermain Sketsa #02
Tiket Pertunjukan Sirkus
Hasan Aspahani melempar 10 kata yang harus dimuat dalam sebuah puisi. Mereka adalah: misteri, mahkamah, darah, tambang, sirkus, kepiting, tembok, formulir, semangka dan tentara. Silakan disimak. Hehehe.


Tiket Pertunjukan Sirkus

Di zaman yang tak makin aman ini
aku ditantangan berbagai undangan,
salah satunya yang paling menggoda
adalah perlombaan makan semangka
dengan hadiah utama dua buah tiket
pertunjukan sirkus ternama.

Tanpa diduga ternyata tawaran ini
berhasil memikat banyak peserta,
dari pelajar sampai tentara,
semua bergegas tak mau kalah hingga
aku terancam kehabisan formulir.

Pertunjukan itu memang banyak diminati
karena atraksinya yang berbahaya seperti
duel harimau dengan penyairnya dan juga
pertandingan sepakbola antar malaikat.

Tak terasa, perlombaan pun berlangsung
secara singkat karena banyak yang gugur
mengundurkan diri. Sang pelajar teringat
biakan semangka dekat tembok belakang
rumahnya yang berhari-hari lupa disiram
hingga harus segera pulang ke rumah.

Ketika melihat merah semangka, si tentara
pun jadi teringat kawannya yang tewas karena
kehabisan darah di medan peperangan.
Ia menjadi sedih dan rindu hingga juga harus
pamit untuk menjenguk kuburan sahabatnya.

Entah untung atau buntung, akulah yang keluar
sebagai pemenang dan tentu saja memperoleh
hadiah utamanya, ketika tampaknya pertunjukkan
sirkus akan dibatalkan karena dianggap kurang
manusiawi dan meninggalkan banyak misteri.

Pengelola sirkus itu telah diseret ke mahkamah
dan di jatuhkan hukuman seberatnya. Namun,
berkat pengacara yang handal, pengusaha itu
berhasil lolos dari ancaman tambang dan sebagai
gantinya ia harus menjadi penjaga kebun seumur
hidup di lahan semangka milik sekolahnya dulu
dekat sebuah kuburan pahlawan revolusi.

Sebagai permintaan maaf, sirkus itu
hanya bisa membayar penggemarnya dengan
binatang-binatang peliharaan mereka.
Hari yang kutunggu akhirnya tiba juga
ketika paket dari sirkus pun kuterima.
Di sudutnya bertuliskan: kami hanturkan
segala maaf, semoga ganti rugi ini tidak
membuat anda semakin rugi.

Kurang ajar sekali kupikir sambil
segera kubuka kemasannya.
Siapa sangka isinya cuma kepiting yang
dari cara melangkahnya ternyata adalah
binatang paling arif di antara semua binatang.


20 November 2008

Labels:

 
Steven menulis pada 23:29 | buka halaman | 0 komentar
Sunday
Bermain Sketsa #01
Badai Mimpi
Kemarin rasanya suntuk sekali. Lalu terinspirasi oleh tingkah guru-guru, kami akhirnya aku dan Benz ingin juga bermain kata. Kami pun mulai melempar kata-kata yang didahului oleh Benz terus bergantian: poster, lampu, daster, sepeda, rak, abu, sampan, gunting, topi dan sekolah. Ternyata ini seru sekali terutama kalau sedang kehilangan acuan menulis. Hehehe. Ada yang mau bergabung? Silakan, bermainlah!



Badai Mimpi

lantas, apakah yang kautangkap
dari poster hujan, musim turun
perlahan dan gemuruh makin lantang
suaranya di langit-langit sekolah

mungkin lampu itu menerka kalau
ia sudah jadi kilat, mengedipkan
ruangan yang penuh abu debu dan
gunting telah berserakan di lantai

"daster apakah yang akan kaubuat?"
aku terkecam ketika di dekat dadanya
kau bubuhkan lencana terukir sampan
gagah menerjang badai yang dingin

"aku hendak berlayar dalam tidurku!"
engkau menyahut dan kudengar pula
pecahan ombak di aliran darahmu,
hujan makin bangkit melihatnya

o nahkoda berjuanglah sampai akhir,
sampai koyak topimu dan terhempas
ke dermaga kota pelabuhan yang jauh
terbentang dalam samudera mimpimu

nanti aku akan datang dengan sepeda
untuk menjemput topi kesayanganmu itu,
memajangnya di rak sekolah ini agar kami
turut merasakan gelora mimpi bersamamu


16 November 2008

Labels:

 
Steven menulis pada 09:56 | buka halaman | 0 komentar