Thursday
Setetes Hujan Di Stasiun
setetes hujan yang jatuh tak akan pernah
mengeluh ke mana angin hendak membawanya
walaupun ia harus tiba di sebuah stasiun
dan menemukan bahwa sebetulnya manusia
walau tenang tekun juga menitikkan airmata

seperti biasa, stasiun basah perlahan
oleh perpisahan (ada yang menyalakan
payung, ada pula segera menghindar sambil
mengeringkan pipi) dan botol plastik tua
terbujur menampung hujan, bekas kenangan

sekali lagi jendela kereta itu menangkap
beribu gerimis di udara dan seakan berpesan
kepada semua penumpang: betapa deras cinta
pernah merecik di sini; yang kemudian diluncurkan
ke tanah dan menyaksikan ada yang tersedu

ketika kereta beranjak, seseorang tak juga
mampu melepaskanmu dan perlahan ia menjelma;
saat engkau berpaling, cuma kaudapati sebuah
catatan kecil kian lunglai diterpa-terpa angin


29 Januari 2009
 
Steven menulis pada 19:56 | buka halaman | 2 komentar
Wednesday
Penciptaan
kau bilang ada yang lebih putih
dari sebuah buku catatan: sambil
membuka halaman pertama engkau
menjelaskannya dengan sebuah kata

tulisan kecil itu kemudian menjerit
hingga terdiam padam semua halaman

senyummu sekejap kemudian berkata
"adakah pula yang terlambat tercipta?"


28 Januari 2009
 
Steven menulis pada 23:56 | buka halaman | 1 komentar
Saturday
Sajak Palestina
anak kami sudah entah pergi ke mana
tapi kalian mau juga kami mengantarnya

17 Januari 2009
 
Steven menulis pada 12:09 | buka halaman | 3 komentar
Halte (Testamen)
apalagi yang kami harapkan dari
sebuah bus datang ke malam panjang
(dunia kecil yang serba serbi dan
kedap kedip cahayanya di langit)?

sebab di rumah cuma tinggal ranjang
tempat kami mengerami kenangan
yang tak diketahui asal usul dan
kebenarannya dan cuma bikin resah

tapi adakah yang lebih baik dari
menunggu? hanya dalam penantian saja
rahasia waktu dapat lebih terungkap
kebenarannya. Halte adalah testamen

malam semakin mengendap di sini
(serbanya semakin serbi dan sengit)
ketika bus datang, hanya bayang-bayang
yang bangkit kemudian beranjak pulang

kami terdiam di sini, semakin mengerti


17 Januari 2009
 
Steven menulis pada 10:55 | buka halaman | 2 komentar
Friday
Topeng
sudah sejak kecil kami menyaksikan
pertunjukan bertopeng di televisi
hari minggu pagi dan lagu pembukanya
selalu kami nyanyikan sewaktu mandi
sambil bergaya sedikit sok jagoan

entah salah asuhan atau sudah keturunan
kalau setelah dewasa kami jadi sangat
akrab dengan topeng dan tentu saja
tak lupa dipakai terutama saat hendak
keluar rumah atau kalau lagi ada tamu

topeng kami gagah, tampan dan menawan
mampu melancarkan seratus senyuman
walau perlu kami copot setiap malam
agar tetap lentuk posturnya, tahan lama
dan agar kami dapat tenang tidurnya

rasanya jadi wajar saja: pelan-pelan
kami mulai lupa dengan wajah sendiri
hingga di suatu malam sepertinya ada
seseorang dari dalam cermin lama dan
kami curiga, "maaf, Anda siapa ya?"


16 Januari 2009
 
Steven menulis pada 23:38 | buka halaman | 1 komentar
Wednesday
Detik Sepi
bila kami menoleh lagi ke lengan kiri
sepi masih berdetik di sana, lekas dan
tenang seperti racun yang tanpa suara
membunuhmu. Tak mengaduh kau dibuatnya

seperti hanya dengan diam (barangkali
kematian adalah diam yang baka) kami
boleh menyaksikan setiap kekosongan
mengucap dan menguraikan suatu bahasa

mungkin karena itulah kami mendengar
nyanyian keheningan yang lembut dan
mulai membuat jiwa kami tersedu-sedu
menyaksikan kematian demi kematianmu

sejak itu kami selalu terganggu setiap
kali hendak menoleh ke lengan kiri
karena detiknya tak lagi sepi dan kami
gemetar, "apakah itu adalah suaramu?"


14 Januari 2009
 
Steven menulis pada 15:29 | buka halaman | 1 komentar
Monday
Utopia
di rumah makan ini tak ada lagi
yang tersisa: apel, anggur, ajal?
semua tinggal rongga, terbuka
menghidangkan cita rasa kesunyian

hanya sekerat sepi yang tersisih
(masih berdenyut pula memuntahkan
merah darah) dan engkau tersentak
"apakah ia hingga begitu terluka?"

"bukankah seperti itulah kita?"
kataku sambil kutaburkan serbuk
airmata ke atasnya "kau suka
perih atau pahit atau keduanya?"

di rumah makan ini tak ada lagi
yang tersisa ketika malam masih
menanti di luar, sedangkan kami
lupa kalau pernah membuat janji

untuk dapat menemuinya kembali


12 Januari 2009
 
Steven menulis pada 17:59 | buka halaman | 2 komentar
Sunday
Rupanya Cinta
rupanya cinta adalah sesuatu
yang kami tulis ulang selalu

walau engkau enggan membacanya
padahal kami sudah kehabisan darah

rupanya cinta adalah sesuatu
yang kami tulis ulang selalu


11 Januari 2009
 
Steven menulis pada 23:55 | buka halaman | 0 komentar
Friday
Ingatan
malam sudah hampir terbenam
bayang-bayang yang bangkit
menepikan sepi, menyerpih
ketika kita terhenti di sini

tak teterjemahkan bisu itu
membeku di bibirmu, membatu
seakan sempurna dalam kutuk
terpejam kekal bagai kisah

semata, sunyi adalah purnama
berpendar di antara kita
menciptakan tata kenangan
mengambang tenang di udara

"kenangan itu palsu!" kucoba
membunuhmu ketika matahari
timbul perlahan. "Telah datang
Dia yang menyaksikan kita"


09 Januari 2009
 
Steven menulis pada 23:20 | buka halaman | 2 komentar
Thursday
Pergi Tidur
"Tidur adalah peristirahatan," bisikmu
sambil melambaikan tangan padaku ketika
kantuk datang menjemputmu. Sosokmu
makin redup, lenyap di dekat gerbang yang
kau sebut-sebut sebagai kota mimpi setiap
kali engkau pulang dari peristirahatan.

"Tidur sebetulnya perjalanan," kucoba
memperbaiki sahabatku itu. Sebab sungguh
aku belum pernah dijemput setiap kali
hendak tidur. Kutempuh sudut remang itu
sendiri. Makin lama makin pejam. Setelah
menyerah dan takut, aku terus pulang ...

"Besok aku ingin ikut jemputanmu saja!"


08 Januari 2009
 
Steven menulis pada 19:19 | buka halaman | 0 komentar
Monday
Sajak Jam Dinding
Engkau mencintai buku. Engkau sangat mencitai buku.
Barangkali melebihi segalanya di dunia ini. Tentu saja,
melebihi rasa sayangmu pada diri sendiri hingga
engkau terus terjaga sepanjang malam hanya untuk
mengenali seluk beluk sebuah buku yang kau temukan
di hari itu ketika engkau hendak menemui seseorang.

Hingga di suatu hari, seperti biasanya, engkau
sedang asyik bercerita dengan buku kesayanganmu
ketika menunggu bus di halte. Namun tiba-tiba saja
seperti ada yang membawa angin itu kepadamu hingga
pembatas bukumu terbang sampai ke sebuah padang
rumput yang di dalamnya berdiri patung Dewantara.

Sejak itulah aku tak pernah melihatmu lagi membaca
sampai larut di kamarmu, berlarian di dekat pancuran
di dalam mimpi buku-bukumu. Aku khawatir kalau kau
masih juga mencari pembatas buku yang terbawa angin
yang sengaja kukirim untuk memisahkanmu dari buku.
Aku khawatir engkau mulai lebih tertarik di sana,

di sebuah padang rumput di mana engkau begitu tekun
menyusuri halaman demi halaman dedaunan di malam sepi.


05 Januari 2008
 
Steven menulis pada 23:20 | buka halaman | 0 komentar
Halte (Doa)
untuk Friska, Mike, Monica dan Reza,

akankan kita bertahan di sini
kala Tanya itu tiba, menepikan
segala waktu sedangkan halte
terus khusyuk dalam penantian?

dengarkan! bahkan nama kita
terus dibisikkannya dalam doa
seakan kekal membara raga
di sepanjang seluk luluh senja

sesungguhnya siapakah yang
akan tiba (waktu terus beralih
menyisakan beribu kenangan),
adakah kita mengenalnya?

"halte yang purba, tetaplah
tegak hingga lengkap segala
senyap, sampai habis setiap
detik mengucapkan saat-saat"

"... sampai kalian menyala-nyala"


05 Januari 2008
 
Steven menulis pada 15:56 | buka halaman | 0 komentar
Sunday
Pertarungan
pernahkah kita selesaikan percakapan ini
sebelum sepi mengentalkan segala bunyi
dan membangkitkan semesta asing seperti
telepon yang terputus, seperti kematian?

saksikanlah malam kian sengit, kegelapan
saling menerkam di udara tanpa perduli
sesungguhnya ada yang beringsut menjadi
gila: menyekap ilusi dalam seluk sendiri!


04 Januari 2009
 
Steven menulis pada 08:32 | buka halaman | 0 komentar
Saturday
Cairan
bukan lagi kita menanti suara
(risau kian risik, melengking)
sementara kata-kata tertunda
tak terucap: semakin runcing!


04 Januari 2009
 
Steven menulis pada 23:49 | buka halaman | 0 komentar
Daun Musim Semi
untuk Monica Lucius

musim semi mengambang di udara
ketika engkau memandang dari
jendela (bingkai kecil yang tak
henti mengundangmu tersenyum)

daun-daun seakan memanggil
angin memetik lembaran tua
dan menerpanya kepada angkasa,
membiarkan tanah menerimanya

tentu saja agar kau mengerti
betapa kita seperti bumi ini
tak sanggup mencegah segala
yang akan tiba, sepenuhnya

namun akan ada suatu ketika
di mana bus melewat ke sana
menghempaskan dedaunan kering,
menyangkal semua kenangan itu

dan engkau (yang selalu tekun
menciptakan waktu) kembali
memandang ke sana walau belum
pula didengarnya panggilanmu


03 Januari 2009
 
Steven menulis pada 02:13 | buka halaman | 2 komentar
Friday
Manusia
engkau pun melangkah ke sana,
sebuah luka lambung yang sepi
tak disahut pula panggilanmu
ketika kau buka pintu: putih

engkau petikan gitar (senar
yang terikat pada kesunyian)
sedangkan suaranya bergema
pada lorong sepi, gua misteri

hingga tiba sepasang perempuan
lalu bertanya kepadamu tentang
Seseorang yang pernah terpejam
di sini, engkau menjawabnya

"janganlah takut! waktu sudah
di sini sehingga Dia beranjak
mendahului kita; telah padam
sepi tak lagi ada jeritannya"

setelahnya mereka asingkan
lorong itu, gua misteri tempat
engkau petik kembali kesunyian
sampai Bercahaya di matamu


02 Januari 2009
 
Steven menulis pada 20:16 | buka halaman | 0 komentar
Sepi Celana
untuk Calvin Klein

menjadi celana adalah seperti
sebatang kara yang hidup tanpa
mengenal orangtua lalu dikirim
saja ke sebuah toko atau hanya
dikenalnya sebagai persinggahan

bukan, pengasuhan! ia dirawat
baik di sana: dirapikan dan
dikemas dan tentu juga diajukan
kepada para peminat yang semoga
membawanya ke sebuah rumah

celana ini, seperti dugaanmu,
kutebus dari toko itu setelah
memilah seribu celana lainnya
tapi hanya ini yang paling akur
bentuknya, terus tenang goyangnya

setelah lama bersama, kusadari
ia menyekap seribu misteri di
balik posturnya yang sunyi:
pernah saja kutemukan seperangkat
telepon genggam di saku kanannya

gemarnya menyingkap surat-surat,
baik surat iklan sampai surat cinta
atau kadang ada diterima pula
surat pribadi bagi si celana dan
aku tentu tak boleh membacanya

di suatu lain, eh ada tumpukan
undangan di saku kirinya tanpa
jelas usul dan maksudnya tapi
singkat isinya: hai mampir dong,
nanti kau akan kudesain ulang!

"wahai celana, sebetulnya akukah
pemakaimu atau engkau pemakaiku?"


02 Januari 2009
 
Steven menulis pada 12:54 | buka halaman | 3 komentar
Thursday
Dalam Diari
untuk Monica Lucius

hari itu engkau tiba di sebuah diari
seperti kota kecil tanpa tanda jalan
namun sudahlah engkau pahami letaknya
dari rintik yang membasahi kesunyian

engkau saksikan senja tua di angkasa
"sunyi dunia yang makin redup kerlipnya,
makin rapuh wujudnya," bisikmu pelan
sebelum engkau meneduh di suatu kafe

entah, betapa sederhana ingatan dan
membeku dalam segelas hot fudge vanila
kemudian menjadi leleh ketika engkau
mencernanya (seperti bulir-bulir waktu)

adakah pula yang berhasil melukaimu
ketika Seorang pun tiba dan berkarut:
"teringatkah kenangan?" sepi mengerut,
malam merendah sedapatnya menenangkan

"kenangan sudahlah asing di luar bahasa,
sedangkan kita tak berhak mengusiknya!"


01 Januari 2009
 
Steven menulis pada 19:45 | buka halaman | 0 komentar
Anomali
bukankah hari ini tahun baru, kembali?
(seperti sejak yang lama kita pun
mengaburkan beribu kenangan seketika;
detik kian gentar saat menujuNya)

adakah pula purbakala teralih, menepi?
(menepikan kita atau baiklah kita pun
mengasing ke lain dunia dan terhilang
di beribu rencana yang sebetulnya juga

...)


01 Januari 2009
 
Steven menulis pada 16:27 | buka halaman | 0 komentar