Monday
Utopia
di rumah makan ini tak ada lagi
yang tersisa: apel, anggur, ajal?
semua tinggal rongga, terbuka
menghidangkan cita rasa kesunyian

hanya sekerat sepi yang tersisih
(masih berdenyut pula memuntahkan
merah darah) dan engkau tersentak
"apakah ia hingga begitu terluka?"

"bukankah seperti itulah kita?"
kataku sambil kutaburkan serbuk
airmata ke atasnya "kau suka
perih atau pahit atau keduanya?"

di rumah makan ini tak ada lagi
yang tersisa ketika malam masih
menanti di luar, sedangkan kami
lupa kalau pernah membuat janji

untuk dapat menemuinya kembali


12 Januari 2009
 
Steven menulis pada 17:59 | buka halaman |


2 komentar: