Friday
Diari Ibu
11.08.2006


Menjelang malam yang semakin larut,
ibu menceritakan kisah kepada anaknya
yang menjenjang malam dengan semraut.

Anak ini memang suka mengerjai ibunya.
Padalah malam sudah berjuang keras
menidurkannya. Ia malah berseru:
Ayo ibu! Ceritakan kisah ayah dalam
seribu satu ranjang di sarang penyamun.

Ibu pun mendadak menitikkan airmata:
mengenang ayah yang adalah seorang
penyair dan selalu berkelana ke dunia
puisi. Kadang ibu minta peluk, eh,
cuma diberi oleh-oleh dari negeri
antahberantah: rencana-rencana
panjang sebuah perantauan.

Ini kutinggalkan untuk anak kita
yang manis itu. Simpanlah baik-baik
agar kelak ketika dewasa, ia bisa
mengikuti jejakku: mencari makna
di sepanjang keharibaan puisi.

Seberapa jauhkah perjalanan ayah?
Tanya anak itu menyambut kantuk.
Ibu tiba-tiba tersenyum mengingat
cintanya yang tulus lebih jauh
dibandingkan perjalanan kedua pria
kesayangannya itu.
 
Steven menulis pada 19:14 | buka halaman |


2 komentar:


  • At 12/8/06 13:55, Anonymous Hasan Aspahani

    INI sajak berisi pesan tentang hakikat cinta perempuan. Saya menyukai aliran kisah yang dikendarai oleh penulisnya untuk menyampaikan pesan itu. Saya kira ini sudah dicapai oleh steven pada sajak-sajak sebelumnya.

    Ketulusan cinta perempuan itu semakin bisa dirasakan berkat keberhasilan menyampaikan betapa si lelaki seenaknya saja mempermainkan ketabahan si perempuan.

    Ada beberapa bagian kalimat yang saya bayangkan bisa diasah lagi, agar daya tusuknya bisa lebih dalam. Nah, ini yang harus menjadi perhatian Steven di sajak-sajaknya berikutnya.

     
  • At 16/8/06 15:12, Blogger bugtronic

    bermain-main di bayang ketulusan, disampaikan ringan...kata-katanya tak meletup-letup, tapi sangat menyampaikan cinta dan ketulusan....manis dan tidak bikin neeg.mantapz