Saturday
Di Tengah Perjalanan
29.04.2006


Menjelang akhir perantauannya
pria itu mulai terlihat lunglai.
Semua persediaan bekal telah habis.
Pakaiannya sudah lusuh dan kucel.
Tubuhnya yang ia banggakan pun
sudah reyot.

Kadang-kadang diperjalanannya,
pria itu dapat membuat perasaan
orang-orang tersentuh karena menyaksikan
perangainya yang suka nyeleneh.
"Duh, kasihan sekali kau. Bisa-bisanya
sampai sebodoh itu.." Tapi ada juga
yang memujinya. "Wah, mengagumkan!
Tak kusangka kau bisa begitu goblok.
Apa ada lagi yang lebih hebat?"
Pria itu diam saja dan tak pernah
mengerti atas semua tuduhan atas dirinya.

Setelah hampir mampus, mampirlah ia di
sebuah kafe kecil yang begitu mewah.
Pemilik kafe langsung menyapanya dengan
hormat. "Silahkan, Tuan. Mau mati
di keranda nomor berapa? Asalkan tidak
meninggalkan pesan yang bukan-bukan
dan tidak minta yang aneh-aneh;
tidak merepotkan dan Anda sanggup
memberi bayaran dan tip yang pantas;
dijamin, Anda dapat mati
dengan tenang dan nyaman!"

"Sialan! Emanknya siapa yang mau mati?!"
"Ah, Bapak ini. Anggap saja seperti
rumah sendiri." "Aku belum mau mati.
Titik! Suguhkan saja aku minuman terbaik
di tempat ini!"

Tepat pukul 00.00, pria itu akhirnya tewas.
Segenap pelanggan kafe menyaksikannya serta
mendoakannya dengan hikmat.
"Semoga pria ini dapat melanjutkan
perantauannya di alam sana."

"Perjalanannya belum berakhir dan
entah kapan akan selesai."
Pemilik kafe mengakhiri perjamuan tersebut.

Pria itu diam-diam mengumpat. Bajingan!
 
Steven menulis pada 18:45 | buka halaman |


0 komentar: