Saturday
Diari Kuas
19.08.2006


Sebuah kuas melamun ketika
pelukis tengah meminjam tubuhnya
bagi kemolekkan sebidang kanvas.

Ia membayangkan betapa
menyenangkan bila suatu saat
nanti dirinya dapat hidup damai
bersama keindahan hasil peluhnya.

Kuas ingin sekali tinggal dalam
lukisan senja kesukaannya: mambang
langit dan merdu keheningan;
sambil merapikan lunglai tubuh
yang makin gemilang oleh
limbah waktu.

Dan lain kesempatan, kuas pun
bisa mampir ke lukisan malam untuk
minum teh besama bulan di sebuah
pondok sambil direbahkannya
panjang-panjang kenangan tentang
pelukis dan lukisan-lukisan
kesayangan.

Jika kuas sudah lelah, kemudian
bulan akan berlapang hati
mengistirahatkan temannya itu
di kuburan dekat situ;
di bawah sinar purnama.
 
Steven menulis pada 11:41 | buka halaman |


1 komentar:


  • At 21/8/06 18:31, Anonymous HAH

    Personifikasi yang luwes. Imajinasi yang ligat: liar tapi keliarannya sangat terkendali. Bulan yang sudah digarap menjadi elemen penting bagi imaji-imaji sajak liris sejak penyair Li Po abad ke-8, disegarkan dengan peran-peran baru di sekitarnya dan tentu saja si pemegang peran utama: Sang Kuas.

    Si Pelukis hanya hadir sebagai pelangkap, dan untuk puisi ini, peran itu paling pas. Lukisan-lukisan hanya jadi latar atau lokasi, karena itu kesenduan sang kuas menjadi lengkap.