Saturday
catatan sketsa #06
About Beauty
There are a thousand ways of beauty. Which one is yours?


2008

Labels:

 
Steven menulis pada 10:56 | buka halaman | 0 komentar
Sunday
catatan sketsa #05
Untuk Apa?
Tanya:
Untuk apa menulis puisi?

Jawab:
Karena aku ingin sekali mengirimkan surat cinta kepada
sang hati; di sana, di dalam diriku.

Labels:

 
Steven menulis pada 21:17 | buka halaman | 0 komentar
Monday
catatan sketsa #04
Tanggal dan Jam Lahir Puisi
Sebaiknya puisi itu tak perlu dibubuhi jam lahirnya. Sebab engkau tidak pernah tahu kapan puisimu itu menjadi bayi yang matang dan tahu-tahu dia sudah besar sendiri.

Tanggal lahir?

Oh, itu mungkin hari dimana saat-saat kelahirannya sudah dekat.

Labels:

 
Steven menulis pada 11:30 | buka halaman | 3 komentar
Thursday
catatan sketsa #03
Menjodohkan Kata
PERNAHKAH ketika ingin menulis puisi, kita malah tak dapat menemukan kata yang pas walaupun telah kita bongkar semua daftar kata? Kurasa yang kau butuhkan adalah bersabar, lalu cobalah berdamai kembali dengan kata-kata. Kita kenali lagi pendirian mereka masing-masing hingga kata-kata pun kembali mempercayaimu sebagai teman baik. Dari situlah kau boleh mulai menjodoh-jodohkan mereka dan mereka tentu akan menjadi pasangan serasi berkat pengenalan yang telah kau selami.

Marilah kita tengok beberapa puisi teman-teman yang telah berhasil menjodohkan kata:


Tapi,
mungkinkah kau lupa bahwa selalu kuletakkan kunci pintu belakang
itu pada lubang angin segitiga itu? Kau boleh mampir kapan saja.
Seperti saat sebelum hari pertama dari hari ini.


Setoples Peta dan Sajak Kadafer
Milka Basuki


stasiunstasiun kenangan
dipancangkan
di vena dan arteri
suatu waktu terlepas
rubuh menimpaidentitas
dan kita amnesiasepenuhhati.
Sudut Dunia
Rya Yunnianto


Pembentukan kata yang hebat, bukan? Tekunlah mengenali kata, sehingga kita akan dapat menghasilkan kata baru yang tak hanya berhasil menyampaikan maksud hati paling dalam, tapi juga dapat menantang logika--di sini penyair bermain--. Dengan perbekalan yang kuat inilah, kita dapat terus menjelajah ke rimba puisi yang lebih dalam.

Ayo, kawan…

Labels:

 
Steven menulis pada 19:42 | buka halaman | 1 komentar
Friday
catatan sketsa #02
Cermin Masa Kecil
SERINGKALI kita -seorang penulis- tiba-tiba menjadi seorang pengecut jika dihadapkan dengan puisi-puisi yang telah kita tulis pada waktu-waktu dulu. Kita tidak percaya diri dan merasa hanya mempermalukan diri sendiri. Seperti melihat cermin diri sendiri dan ingin berkomentar, “kau tidak sekeren yang dulu aku bayangkan..”

PADAHAL bagaimana pun mereka adalah potret kita dulu: masa kecil yang lugu. Baiklah kalau kita membuka pikiran dan mencoba untuk evaluasi dan intropeksi diri. Pastinya jadi membanggakan, “ini toh si buyung yang masih lucu-lucu dan menggemaskan.”

Labels:

 
Steven menulis pada 16:11 | buka halaman | 1 komentar
Tuesday
catatan sketsa #01
Kesepian Penulis
"PERGILAH kau sepi, tapi jangan jauh-jauh." Setelah membaca kalimat ini di situs Arman, maka terlintas dalam pikiran bahwa pentinglah keberadaan sebuah sepi dalam diri seorang penulis. Dengan sepi yang penulis pelihara di dalam dirinya, ia dapat menciptakan sebuah ruang kecil untuk merenungi suatu pemikiran, menetapkan sebuah keberjarakan, menerapkan imajinasi, lalu menulisnya menjadi sebuah puisi.

NAMUN ada kalanya sepi pun pergi terlalu jauh dan akhirnya seorang penulis mengalami sebuah kekosongan: keadaan dimana benaknya terasa penat dan tak ada nafsu sama sekali untuk membirahi puisi. Pada saat inilah seorang penulis merasa begitu nelangsa dan merasakan ketidakberdayaan, seperti ketika ditinggalkan kekasihnya: puisi itu sendiri.

DENGAN hiburan TS Pinang: Kekosongan-kepejalan ini adalah jalan untuk mencapai keseimbangan dan tiada saran lain selain menikmatinya; maka baiklah seorang penulis merenungkannya dan mulai menciptakan rencana-rencana perjalanannya dalam liburan yang menyenangkan ini. Dengan adanya momen-momen seperti ini, janganlah seorang penulis menjadi berhenti untuk menikmati puisi dan akhirnya memelihara trauma yang nikmat-nikmatan saja. Justru penulis harus dapat lebih mengeksplorasi buku-buku tubuh puisi dan mengakrabinya dengan lebih baik lagi.

HAL ini sangat menguntungkan penulis dan menuntut penulis agar menjadi lebih dewasa lagi dalam dunia kepenyairannya. Dengan jiwa yang lebih matang, penulis akan lebih trampil untuk memegang kendali di kegiatan percintaan berikutnya.

Labels:

 
Steven menulis pada 00:46 | buka halaman | 0 komentar